Kisah Tunggal Panaluan, Tongkat Sakti Orang Batak Toba

Tunggal Panaluan

Kisah Tunggal Panaluan – Tungkot Tunggal Panaluan adalah salah satu kesenian suku Batak yang paling terkenal di dunia, yang dipahat menurut kejadian nyata di hutan tertentu yang juga memiliki kekuatan gaib. Ini adalah cerita pendek tentang asal mula Tungkot Tunggal Panaluan.

Dahulu kala di hutan Sidogordogor Pangururan hiduplah sebuah keluarga yang belum memiliki anak selama 7 tahun, Guru Hatahutan dan istrinya Nasindak Panaluan.

Akhirnya keluarga ini pun dikaruniai keturunan setelah berdoa selama 7 tahun sambil menunggu Ompu Mula Jadi Na Bolon. Setelah 13 bulan kehamilan, Linduak (= kembar), laki-laki dan perempuan, lahir.

Kemudian diadakan pesta Martutu Aek (penamaan) untuk kedua anak laki-laki tersebut, yang upacara atau pestanya kemudian dilakukan oleh agama Parbaringin. Usai ritual acara Martutu Aek, anak laki-laki itu disebut Aji Donda Haatautan dan anak perempuan itu disebut Siboru Tapi Nausan. Sesepuh Huta atau tokoh masyarakat kedua untuk memisahkan anak tersebut agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Hari, minggu dan tahun berlalu dan anak itu tumbuh. Tanpa disadari, orang tua dari kedua anak tersebut merasakan rasa cinta satu sama lain dan sangat dekat dan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Mereka pernah pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dengan seekor anjing.

Dalam keheningan di tengah hutan, tumbuh rasa cinta di antara mereka, dan mereka akhirnya bercinta. Setelah itu, Siboru Tapi Nausan melihat aroma pohon Si Tua Mangule dan meminta saudara kembarnya Si Aji Donda Hatutan untuk memakannya.

Jika Aji Donda Hatautan memanjat pohon dan memakan buahnya, dia tiba-tiba menempel dan tidak bisa bergerak lebih dari Siboru. Tapi Nausan memanjat pohon dan memakan buah di ujungnya, keduanya menempel di pohon. Mereka juga mencoba melarikan diri dari pohon, tetapi tidak berhasil. Anjing yang menemani mereka kembali ke hutan untuk kejadian tersebut.

Akhirnya, orang tua mereka datang dengan Datu (orang sakti) untuk membebaskan mereka dari pohon. Guru Guta Balian dan empat Datu lainnya berusaha membebaskan si kembar dari pohon, tetapi usaha mereka sia-sia. Mereka pun melekat pada pohon Piupiu Tunggal dan mati di pohon tersebut. Atas kejadian ini, diukirlah patung tongkat untuk memperingatinya, ini perintah yang ditempelkan pada pohon pada patung Tongkat Tunggal Panaluan, Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbuselbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meoleol, Si Upar Manggalele, Barit Songkar Pangururan.

Mitos ini merupakan salah satu bentuk ajaran turun temurun bagi suku Batak, khususnya untuk menghormati nasehat para Tona/orang tua. Menurut terjadinya Sarjana Panaluan, itu adalah hukuman dari para dewa, karena kedua saudara kembar itu melakukan hubungan badan yang tidak semestinya. Kedua anak itu diikat ke pohon yang sedang berbuah, menandakan bahwa Siboru Tapi Nauasan sedang mengandung saudaranya Si Aji Donda Hatautan.

VCD Asal Mula Tungkot Tunggal Panaluan – oleh: Prof. M. Sorimangaraja Sitanggang sebagai penulis naskah & sutradara

Leave a Reply

Your email address will not be published.